SNF 2026 dan PIT PSI ke-38 Himpun 103 Makalah Ilmiah di Universitas Ahmad Dahlan
Yogyakarta, 20 Juni 2026 – Tantangan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan transformasi teknologi global mendorong para akademisi dan peneliti fisika untuk memperkuat kembali peran ilmu fisika sebagai fondasi kemajuan teknologi masa depan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Seminar Nasional Fisika (SNF) 2026 dan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-38 PSI Cabang DIY–Jawa Tengah yang diselenggarakan di Kampus Utama Universitas Ahmad Dahlan.
Kegiatan yang diikuti akademisi, peneliti, guru, mahasiswa, dan praktisi dari berbagai institusi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini berhasil menghimpun 103 makalah ilmiah yang dipresentasikan dalam berbagai sesi seminar dan diskusi ilmiah.
Ketua Panitia SNF 2026, Dr. Damar Kusuma, menyampaikan bahwa perkembangan AI telah mengubah banyak sektor kehidupan. Oleh karena itu, komunitas fisika perlu menemukan kembali relevansi dan kontribusinya dalam menghadapi perubahan zaman.
“Fisika harus mampu bersinergi dengan perkembangan AI, energi, dan ilmu hayati. Ketiga bidang tersebut diprediksi menjadi fondasi utama teknologi masa depan,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Ketua PSI Cabang DIY–Jawa Tengah, Prof. Gede Bayu Suparta, menegaskan bahwa fisika tidak hanya berperan dalam pengembangan sains dan teknologi, tetapi juga memiliki kontribusi besar dalam membangun peradaban manusia. Menurutnya, kemajuan teknologi yang dinikmati saat ini tidak dapat dipisahkan dari kontribusi ilmu fisika sebagai dasar berbagai inovasi.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Gede juga mengajak para fisikawan untuk mengampanyekan pemanfaatan ilmu fisika bagi perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.
“Fisika harus menjadi sarana membangun peradaban, bukan menghancurkan peradaban. Teknologi yang lahir dari sains fisika hendaknya digunakan untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Prof. Dr. Muklas, menegaskan komitmen UAD dalam mempertahankan dan mengembangkan ilmu-ilmu dasar (basic science), khususnya fisika, di tengah tantangan menurunnya minat generasi muda terhadap bidang tersebut.
Menurutnya, Program Studi Fisika UAD telah mengembangkan model penguatan akademik melalui pendekatan knowledge-based economy, salah satunya melalui unit usaha berbasis kompetensi fisika yang bergerak di bidang kalibrasi alat kesehatan. Model tersebut berhasil mendukung pengembangan program studi sekaligus menyediakan beasiswa bagi mahasiswa.
“Fisika merupakan fondasi penting bagi pengembangan teknologi kritis, industri masa depan, dan inovasi nasional. Karena itu UAD tetap berkomitmen mengembangkan pendidikan dan riset fisika,” ungkapnya.
Selain sesi seminar nasional, kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah pembicara dari kalangan akademisi, pemerintah, dan industri, antara lain Prof. Dr. Isafid, M.Si. yang membahas inovasi Remote Physics Laboratory, Ezrom M.D. Taparan, S.T., M.Sc. dari Kementerian ESDM yang memaparkan prospek fisika dalam pengembangan energi baru terbarukan, serta Rici Aktorian dari Grab Indonesia yang membahas perkembangan teknologi digital dan keamanan siber di era AI.
Melalui forum ilmiah tahunan ini, PSI dan UAD berharap lahir berbagai kolaborasi riset, inovasi pembelajaran, serta kontribusi nyata ilmu fisika dalam mendukung transformasi teknologi, transisi energi, dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

