Kajian Bulanan ke-40 FKIP UAD: Prof. Muchlas Tekankan Kepemimpinan Transformasional yang Peduli dan Menyejahterakan
Yogyakarta, 26 Agustus 2026 — Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan menyelenggarakan Kajian Bulanan ke-40 Periode Agustus 2026 pada Rabu (26/8/2026) di Educators Hall FKIP UAD, Lantai 7. Kajian bertema **“Memimpin dengan Senyum”** tersebut menghadirkan **Prof. Dr. Muchlas, M.T.** sebagai pemateri.
Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–09.00 WIB ini diikuti oleh pimpinan senat, jajaran dekanat, ketua dan sekretaris program studi jenjang sarjana, magister, doktor, dan profesi, serta dosen dan tenaga kependidikan FKIP UAD.
Prof. Muchlas mengawali kajian dengan mengutip firman Allah Swt. dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
> *“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”*
Ayat tersebut mengingatkan bahwa setiap tindakan seorang pemimpin, sekecil apa pun, memiliki konsekuensi dan akan dimintai pertanggungjawaban. Oleh karena itu, kepemimpinan harus dijalankan dengan amanah, kehati-hatian, serta orientasi pada kemaslahatan bersama.
Dalam paparannya, Prof. Muchlas menjelaskan bahwa seorang pemimpin sekurang-kurangnya memiliki tiga tugas utama, yaitu **memberikan rasa aman, meningkatkan kesejahteraan, dan menggerakkan seluruh unsur organisasi**. Pemimpin tidak cukup hanya menjalankan kegiatan administratif, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan dan mengoptimalkan potensi orang-orang yang dipimpinnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memerlukan model **kepemimpinan transformasional**, yakni kepemimpinan yang mampu memobilisasi potensi, mengendalikan perubahan, dan memproyeksikan masa depan. Perguruan tinggi terus menghadapi perubahan dalam bidang akademik, keuangan, sumber daya manusia, teknologi, serta tata kelola kelembagaan. Kondisi tersebut menuntut pemimpin untuk mempunyai visi yang kuat sekaligus mampu menerjemahkannya ke dalam kebijakan dan program yang terukur.
Prof. Muchlas juga menekankan pentingnya tata kelola yang berdasarkan aturan atau *management by rule*. Meskipun demikian, aturan tidak seharusnya menghambat pengembangan institusi. Ketika suatu kebutuhan baru belum diatur secara memadai, pimpinan perlu membangun visi, merumuskan kebijakan, dan menyiapkan regulasi melalui proses musyawarah. Dengan demikian, institusi dapat terus berkembang tanpa meninggalkan prinsip akuntabilitas.
Musyawarah menjadi salah satu unsur penting dalam pengelolaan Universitas Ahmad Dahlan. Berbagai keputusan strategis, termasuk pemanfaatan hasil usaha dan dana pengembangan, perlu dibahas secara terbuka dan diarahkan untuk kemajuan universitas. Evaluasi terhadap dana pengembangan juga diperlukan agar penggunaannya semakin efektif, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan akademik maupun kesejahteraan warga kampus.
Dalam menjelaskan proses perkembangan UAD, Prof. Muchlas menyampaikan bahwa transformasi institusi tidak terjadi secara instan. Perkembangan jumlah mahasiswa, pembangunan sistem, penguatan sarana, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia merupakan hasil dari proses panjang yang ditopang oleh kerja bersama. Salah satu contoh yang disampaikan ialah keberanian UAD mengembangkan teknologi informasi dan merintis penggunaan sistem berbasis Linux di lingkungan kampus dengan segala keterbatasan sumber daya pada masa itu.
Nilai-nilai kepemimpinan tersebut juga dikaitkan dengan Surah At-Taubah ayat 128. Ayat ini menggambarkan karakter kepemimpinan Rasulullah saw., yaitu memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kesulitan umat, menginginkan keselamatan dan kebaikan bagi mereka, serta bersikap santun dan penuh kasih sayang.
Karakter tersebut menjadi landasan penting dalam memaknai tema “Memimpin dengan Senyum”. Senyum bukan sekadar ekspresi wajah, melainkan lambang keramahan, ketenangan, keterbukaan, dan kesediaan untuk mendengarkan. Ketegasan dalam menjalankan aturan tetap diperlukan, tetapi harus disertai kepedulian dan penghormatan terhadap martabat orang lain.
Kajian ini juga mengingatkan bahwa munculnya kesan otoriter dalam kepemimpinan sering kali berkaitan dengan komunikasi yang kurang terbuka. Oleh sebab itu, kebijakan perlu disertai penjelasan mengenai latar belakang, tujuan, aturan, dan manfaatnya. Komunikasi yang baik dapat membangun kepercayaan serta mendorong seluruh unsur organisasi untuk bergerak menuju tujuan yang sama.
Melalui Kajian Bulanan ke-40 ini, sivitas akademika FKIP UAD diharapkan semakin memahami bahwa kepemimpinan bukan semata-mata jabatan, melainkan amanah untuk melindungi, menyejahterakan, dan menggerakkan. Kepemimpinan transformasional yang berlandaskan nilai-nilai Islam, musyawarah, aturan, visi masa depan, dan kasih sayang diharapkan dapat memperkuat kontribusi FKIP dan UAD bagi pendidikan serta masyarakat.


